Minggu, 16 Agustus 2020
MEMELIHARA KEBERMAKNAAN PEMBELAJARAN SOSIOLOGI DI ERA PEMBELAJARAN DARING
================================================================
Pasca
PSBB masyarakat dihadapkan pada banyak kondisi atau hal-hal baru (new normal) berbagai bidang. Begitu juga pada bidang pendidikan terutama pada proses
pembelajaran di sekolah. Banyak aspek yang menjadi tiba-tiba baru dan berusaha
selalu sesuai dengan protokoler kesehatan yang telah di tetapkan di memutus
mata rantai penularan CoVid 19. Mulai dari munculnya istilah Social distancing
yang memaksa para insan pendidikan mulai merancang manajemen pendidikan yang
efektif dalam online learning (daring).
Pembelajaran
tetap diusahakan berjalan meski dengan berbagai macam masalah di lapangan.
Masalah yang tidak terhindarkan antara lain (1) tidak adanya perangkat yang
mendukung (android), (2) alat internet yang tidak merata berupa sinyal atau
jaringan, (3) gagap teknologi, (4) adanya ketidakpahaman dalam merancang
pembelajaran jarak jauh dan (5) proses belajar siswa yang tidak
terpantau.
Dari
berbagai macam tantangan dari masalah di atas, perlu disikapi dengan bentuk
keterbukaan pikiran seorang guru agar mampu menyusun desain pembelajaran yang
menyenangkan agar siswa dapat mengikuti pembelajaran dalam era new normal.
Desain pembelajaran setiap mata pelajaran tentu memiliki ke-khas-an
masing-masaing untuk mencapai tujuan pembelajarannya Sosiologi merupakan
salah satu mata pelajaran wajib dalam bidang ilmu sosial di Sekolah Menengah
Atas. Sosiologi sebagai ilmu sosial yang mempelajari masyarakat beserta
gejala-gejala sosialnya juga memerlukan metode pembelajaran yang menarik. di
samping itu sosiologi juga merupakan ilmu yang bersifat abstrak dan kebanyakan
berisi hafalan-hafalan. Sehingga proses pembelajaran Sosiologi akan lebih
bermakna dan tidak terlihat monoton apabila menggunakan metode atau cara yang
menyenangkan dan melibatkan peserta didik dalam berfikir secara langsung
dalam pembelajaran sehingga peserta didik merasa senang atau mudah mendalami
materi yang disampaikan dalam pembelajaran.
Manajemen desain pembelajaran yang
terintegrasi dan kontektual tentu diharapkan dapat dimunculkan sebagai
pembelajaran yang efektif dan menyenangkan dalam pembelajaran sosiologi.
Keberhasilan kegiatan belajar-mengajar mata pelajaran sosiologi sangat
dipengaruhi banyak faktor, yaitu : profesionalitas guru sebagai pendidik, minat
belajar peserta didik, alat penujang proses pembelajaran, metode pembelajaran,
dan media pembelajaran yang dipakai. Dengan menjadi aktor utama maka guru dalam
masa new normal perlu ulang memperhatikan tujuan dalam desain
pembelajaran agar tingkat keberhasilan dan kebermaknaan pembelajaran
tercapai. Desain pembelajaran hendaknya memperhatikan beberapa hal berikut
:
2. Desain yang mampu mendorong siswa mendapatkan dan mengolah informasi baru
3. Desain yang mampu menciptakan kemampuan menyampaikan informasi dalam ide, gagasan dan argumentasi
Desain pembelajaran dengan berfokus
pada pengalaman siswa yang kontekstual dalam keseharian di masyarakatnya akan
menghadirkan pembelajaran yang menjaga kebermaknaan dari ilmu sosiologi itu
sendiri. Aktivitas belajar mendorong siswa untuk mengembangkan beberapa
keterampilan berfikir dari setiap kemampuan yang hendak dicapai secara
bersamaan. kemampuan mengamatii, menganalisis, menginterpretasikan hingga
menerapkan hasil pengetahuan yang diperoleh. Melalui hal ini diharapkan
integrasi sebuah pembelajaran dimana siswa diberikan kesempatan untuk
mengembangkan kemampuan berpikir secara mendalam tidak hanya berfokus pada satu
hal dasar saja contoh belajar dengan investigasi kasus atau masalah sosial yang
ada di masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya.
Belajar bermakna merupakan teori belajar
yang dikemukakan oleh David Ausubel,
yakni suatu proses dimana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian
yang sudah dipunyai seseorang yang sedang belajar.
Menurut
Ausubel belajar dapat diklasifikasikan ke dalam dua dimensi. Dimensi pertama
berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran yang disajikan pada
siswa melalui penerimaan atau penemuan. Dimensi kedua menyangkut cara bagaimana
siswa dapat mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang telah ada.
Meliputi fakta, konsep, dan generalisasi yang telah dipelajari dan diingat oleh
siswa
Dalam menyusun rencana pembelajaran jarak
jauh dengan desain pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna pada mata
pelajaran sosiologi ada tiga hal yaitu tujuan pembelajaran langkah-langkah
pembelajaran dan penilaian pembelajaran. Tujuan tujuan pembelajaran mengarah
pada kompetensi dasar serta jelas. Jelas maksudnya apabila hasil belajar bisa
teramati secara konkrit dan mencerminkan keterampilan khas mata
pelajaran. Pada langkah-langkah kegiatan secara logis keseluruhan artinya dapat
diikuti dan dimengerti oleh siswa. Desain penilaian juga menjadi hal penting
dalam perencanaan di mana proses evaluasi (alat dan cara) penilaian hendaknya
juga bisa mengungkap kemampuan yang menjadi tujuan pembelajaran
Media pembelajaran yang berbeda sebagai solusi untuk meningkatkan kualitas kebermaknaan proses pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran yang tepat. Dalam PJJ hari ini muncul banyak media pembelajaran yang mendukung aktivitas pembelajaran daring seperti blog, whatapp, google class room, youtube, dan banyak lainnya.Memilih media pembelajaran yang tepat adalah kunci utama keberhasilan pembelajaran daring. Media pembelajaran diharapkan mampu menjadi perpanjangan tangan guru untuk menyentuh siswa sehingga perlu dipertimbangkan tujuan penggunaan media, agar mampu meningkatkan keterlibatan siswa, menumbuhkan semangat dan mendorong motivasi dengan tujuan akhir pembelajaran daring yang menyenangkan. Metode dan media yang dapat mengembangkan keaktifan, minat, kemandirian, tanggung jawab dan sifat gotong royong dan tentunya menggunakan metode yang melibatkan peserta didik secara aktif atau pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student Centered). Pembelajaran Discovery Learning merupakan salah satu metode pembelajaran yang dapat menunjang peserta didik dalam pembelajaran yang bermakna dengan memberikan kemudahan bagi peserta didik untuk menemukan dan memahami konsep-konsep yang dianggap sulit. Peserta didik dapat saling mencari informasi dan mendiskusikan masalah yang dihadapi dengan temannya. Kondisi belajar yang kondusif mendukung peserta didik untuk belajar secara masimal dan mengembangkan potensi yang ada di dalam diri peserta didik.
Dengan demikian untuk memelihara
kebermaknaan pembelajaran sosiologi, perlu adanya perbaharuan terus menerus
dalam proses pembelajaran. Seiring gelombang pandemi covid 19 yang masih
berjalan menjadi faktor pendorong percepatan perkembangan sistem pembelajaran
yang bermakna ini dalam perjalanan menuju revolusi 4.0 yang diidamkan
masyarakat Indonesia sebagai masyarakat global. Di mana Insan pendidikan
dan masyarakat harus siap memanfaatkan teknologi tanpa menyampingkan makna
pembelajaran yang optimal dan menumbuhkan sikap Merdeka belajar .
Dirgahayu Republik Indonesia yang ke 75
jayalah selalu mulialah selalu.
Kamis, 13 Agustus 2020
BAB I PERUBAHAN SOSIAL (pertemuan 5)
DAMPAK PERUBAHAN SOSIAL
a. Pengertian Modernisasi
Kata modernisasi dengan kata dasar modern berasal dari bahasa latin modernus yang dibentuk dari kata modo dan ernus. Modo berarti cara dan ernus menunjuk pada adanya periode waktu masa kini. Modernisasi berarti proses menuju masa kini atau proses menuju masyarakat modern. Modernisasi dapat pula berarti perubahan dari masyarakat tradisional menuju masyarakat yang maju. Modernisasi tidak sama dengan westernisasi. Westernisasi adalah peniruan secara mutlak pengaruh kebudayaan barat yang masuk. Modernisasi pun bukan sekularisasi. Sekularisasi adalah suatu proses pemisahan antara nilai-nilai keagamaan dan nilai-nilai duniawi.
Berikut
beberapa pendapat para sosiolog tentang pengertian modernisasi.
1.
Koentjaraningrat
mendefinisikan modernisasi sebagai usaha untuk hidup sesuai dengan zaman dan
keadaan dunia sekarang.
2.
Soerjono
Soekanto, modernisasi adalah suatu bentuk dari perubahan sosial yang biasanya
terarah dan didasarkan pada suatu perencanaan (social planning).
3.
Astrid
S. Susanto, modernisasi adalah suatu proses pembangunan yang memberikan
kesempatan kea rah perubahan demi kemajuan.
Syarat-Syarat
Modernisasi
Menurut Soerjono
Soekanto terdapat beberapa syarat modernisasi
1.
Cara
berpikir ilmiah (scientific thinking) yang sudah melembaga dan tertanam kuat
dalam kalangan pemerintah maupun masyarakat luas.
2.
Sistem
administrasi negara yang baik dan benar-benar mewujudkan birokrasi.
3.
Sistem
pengumpulan data yang baik, teratur, dan terpusat pada suatu lembaga atau badan
tertentu seperti BPS (Biro Pusat Statistik).
4.
Penciptaan
iklim yang menyenangkan (favourable) terhadap modernisasi terutama media masa.
5.
Tingkat
organisasi yang tinggi, terutama disiplin diri.
6.
Sentralisasi
wewenang dalam perencanaan sosial (social planning) yang tidak mementingkan
kepentingan pribadi atau golongan.
·
Gejala
Sikap Mental Manusia Modern
Sikap mental dan
budaya suatu masyarakat sangat menentukan diterima atau ditolaknya suatu
perubahan atau modernisasi. Sikap mental yang dapat menjadi pendorong
modernisasi antara lain adalah rajin, tepat waktu, berani mengambil resiko,
disiplin, kompetitif, adil, jujur, toleran, dan peduli lingkungan.
a. Gejala-Gejala Modernisasi
1.
Bidang
budaya, ditandai dengan semakin terdesaknya budaya tradisional oleh masuknya
pengaruh budaya dari luar, sehingga budaya asli semakin pudar.
2.
Bidang
politik, ditandai dengan semakin banyaknya negara yang lepas dari penjajahan,
munculnya negara-negara yang baru merdeka, tumbuhnya negara-negara demokratis,
lahirnya lembaga-lembaga politik, dan semakin diakuinya hak-hak asasi manusia.
3.
Bidang
ekonomi, ditandai dengan semakin kompleksnya kebutuhan manusia akan
barang-barang dan jasa sehingga sektor industri dibangun secara besar-besaran
untuk memperoduksi barang.
4.
Bidang
sosial, ditandai dengan semakin banyaknya kelompok baru dalam masyarakat,
seperti kelompok buruh, kaum intelektual, kelompok manajer, dan kelompok
ekonomi kelas.
2. 2. Globalisasi
A.
Pengertian
Globalisasi
Kata
“globalisasi” diambil dari kata global, yang berarti universal (mendunia).
Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan
keterkaitan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia melalui perdagangan,
investasi, perjalanan, budaya popular, dan bentuk interaksi yang lain.
Globalisasi
memiliki banyak definisi, salah satunya seperti yang dikemukakan oleh Lodge
(1991), mendefinisikan globalisasi sebagai suatu proses yang menempatkan
masyarakat dunia bisa menjangkau satu dengan yang lain atau saling terhubungkan
dalam semua aspek kehidupan mereka, baik dalam budaya, ekonomi, politik,
teknologi maupun lingkungan. Dengan pengertian ini globalisasi dikatakan bahwa
masyarakat dunia hidup dalam era dimana kehidupan mereka sangat ditentukan oleh
proses-proses global.
B.
Ciri
Globalisasi
a)
Perubahan
dalam konsep ruang dan waktu. Perkembangan barang-barang seperti telepon
genggam, televisi, satelit, dan internet menunjukkan bahwa komunikasi global
terjadi sedemikian cepatnya, sehingga memungkinkan kita merasakan banyak hal
dari budaya yang berbeda.
b)
Pasar
dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung
sebagai akibat dari pertumbuhan perdagangan internasional, peningkatan pengaruh
perusahan multinasional, dan dominasi organisasi semacam World Trade Organization
(WTO).
c)
Peningkatan
interaksi kultural melalui perkembangan media massa (terutama televisi, fim,
musik, dan transmisi berita dan olahraga internasional). Saat ini kita dapat
mengonsumsi dan mengalami gagasan dan pengalaman baru mengenai hal-hal yang
melintasi beranekaragam budaya, misalnya dalam bidang fashion dan makanan.
d)
Meningkatknya
masalah besama, misalnya pada bidang lingkungan hidup, krisis multinasional dan
lain-lain.
C.
Proses
Terjadinya Globalisasi
Hubungan antarbangsa di dunia telah ada sejak
berabad-abad yang lalu. Bila ditelusuri, benih-benih globalisasi telah tumbuh
ketika manusia mulai mengenal perdagangan antarnegara sekitar tahun 1000 dan
1500 M. Saat itu para pedagang dari Cina dan India mulai menelusuri negeri lain
baik melalui jalan darat maupun jalan laut untuk berdagang.
Fase selanjutnya ditandai dengan dominasi
perdagangan kaum muslim di Asia dan Afrika. Kaum muslim membentuk jaringan
perdagangan dan menyebarkan nilai-nilai agamanya, nama-nama, abjad, arsitek,
nilai sosial dan budaya Arab ke warga dunia.
Fase selanjutnya ditandai dengan eksplorasi dunia
secara besar-besaran oleh bangsa Eropa. Spanyol, Portugis, Inggris, dan Belanda
adalah pelopor-pelopor eksplorasi ini. Hal ini didukung pla denan terjadinya
revolusi industri yang meningkatkan keterkaitan antarbangsa dunia.
Semakin berkembangnya industri dan kebutuhan akan
bahan baku serta pasar juga memunculkan berbagai perusahaan multinasional di
dunia. Di Indonesia, perusahaan Eropa membuka berbagai cabangnya di Indonesia,
Freeport dan Exxon dari Amerika Serikat, Unilever dari Belanda British
Petroleum dari Inggris adalah beberapa contohnya.
Fase selanjutnya terus berjalan dan mendapat
momentumnya ketika perang dingin berakhir dan komunisme di dunia runtuh.
Runtuhnya komunisme seakan memberi pembenaran bahwa kapitalisme adalah jalan
terbaik dalam mewujudkan kesejahteraan dunia. Implikasinya, negara di dunia
mulai menyediakan diri sebagai pasar yang bebas. Hal ini didukung pula dengan
perkembangan teknologi komunikasi dan transportasi. Hasilnya, sekat-sekat
antarnegara pun mulai kabur.
Minggu, 09 Agustus 2020
BAB I PERUBAHAN SOSIAL (pertemuan 4)
BENTUK DAN PROSES PERUBAHAN SOSIAL
A. Bentuk Perubahan Sosial
Bentuk perubahan sosial ada beberapa macam. :
A. Perubahan Sosial Berdasarkan Waktu
1. Perubahan Sosial Lambat (Evolusi)
2. Perubahan Sosial Cepat (Revolusi)
B. Perubahan Sosial berdasarkan pengaruhnya
1. perubahan sosial skala besar
2. perubahan sosial skala kecil
C. Perubahan Sosial berdasarkan sudut pandang masyarakat
1. Perubahan sosial yang dikehendaki
2. Perubahan sosial yang tidak dikehendaki
D. Perubahan Sosial berdasarkan Struktur dan proses
1. Perubahan sosial struktural
2. Perubahan sosial prosesual
Berikut Penjelasan Masing-masing poin di atas
1. Perubahan lambat dan cepat
Perubahan lambat
merupakan perubahan yang memerlukan waktu lama, dan rentetan-rentetan perubahan
kecil yang saling mengikuti dengan lambat yang disebut juga dengan evolusi.
Contohnya perubahan mata pencaharian masyarakat. Sedangkan perubahan-perubahan
sosial yang berlangsung dengan cepat
dan menyangkut dasar-dasar atau sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat
(yaitu lembaga-lembaga kemasyarakatan) biasa disebut revolusi. Contohnya
revolusi Indonesia tahun 1945, reformasi Indonesia tahun 1998, revolusi industri
Perancis dan Inggris.
· Ada
keinginan dari masyarakat untuk mengadakan perubahan
· Ada
seorang pemimpin atau sekelompok orang yang mampu memimpin masyarakat untuk
mengadakan perubahan, contohnya revolusi di Kuba yang dipimpin oleh Fidel
Castro
· Ada
pemimpin yang dapat menampung keinginan atau aspirasi dari rakyat untuk
merumuskan aspirasi tersebut menjadi suatu program kerja
· Ada
tujuan konkret yang dapat dicapai. Artinya, tujuan itu dapat di lihat oleh
masyarakat dan dilengkapi oleh suatu idiologi tertentu
· Ada
momentum yang tepat untuk mengadakan revolusi yaitu saat keadaan sudah tepat
dan baik untuk mengadakan suatu gerakan. Contohnya, revolusi kemerdekaan yang
terjadi di Indonesia adalah suatu momentum yang tepat. Kemerdekaan merupakan
keinginan rakyat Indonesia. Hal ini dibarengi dengan munculnya pemimpin yang
dapat menampung aspirasi rakyat serta waktu pencetusan yang tepat, yaitu ketika
terjadi kekosongan pemerintahan setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada 14
Agustus 1945.
2.
Perubahan Kecil dan Besar
Perubahan kecil adalah suatu perubahan yang terjadi pada unsur-unsur
struktur sosial yang tidak membawa pengaruh langsung atau berarti bagi
masyarakat. Contohnya perubahan mode pakaian tidak akan membawa pengaruh
berarti bagi masyarakat dalam secara keseluruhan. Perubahan besar adalah suatu
perubahan yang berpengaruh terhadap masyarakat dan lembaga-lembaganya, seperti
dalam sistem kerja, sistem hak milik tanah, hubungan kekeluargaan, dan
stratifikasi masyarakat. Contohnya urbanisasi di kota-kota menimbulkan berbagai
perubahan, seperti lahan menjadi sempit, dampaknya banyak wanita dan anak-anak
menjadi buruh dan pengemis. Dengan demikian timbul bermacam-macam lembaga
hubungan kerja dan lembaga gadai tanah. Selain itu, timbul pula kesenjangan
yang dapat memicu konflik yang akhirnya bisa sampai pada tahapan disintegrasi
sosial.
3.
Perubahan yang dikehendaki (direncanakan) dan tidak
dikehendaki (tidak direncanakan)
Perubahan yang dikehendaki (intended
change) atau direncanakan (planned
change) merupakan perubahan yang diperkirakan atau yang telah direncanakan
terlebih dahulu oleh pihak-pihak yang hendak mengadakan perubahan di dalam
masyarakat. Pihak-pihak yang hendak mengadakan perubahan ini dinamakan pelaku
perubahan (agent of change), yaitu
seseorang atau sekelompok orang yang mendapat kepercayaan masyarakat sebagai
pemimpin dalam perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakat. Cara-cara untuk
mempengaruhi masyarakat dengan sistem yang teratur dan direncanakanterlebih
dahulu dinamakan rekayasa sosial (social
engineering) atau sering pula dinamakan perencanaan sosial (social planning). Contohnya lahirnya
undang-undang perkawinan berdasarkan Peraturan Pemerintah no. 10 Tahun 1963
membatasi kaum laki-laki terutama pegawai negeri untuk mempunyai istri lebih
dari satu, kecuali ada alasan tertentu yang kuat.
Perubahan yang tidak dikehendaki (unintended
change) atau tidak direncanakan (unplanned
change) merupakan perubahan yang terjadi di luar jangkauan pengawasan
masyarakat atau kemampuan manusia. Perubahan ini dapat menyebabkan timbulnya
akibat-akibat sosial yang tidak diharapkan masyarakat. Contohnya kecenderungan
pelaksanaan upacara adat perkawinan yang bersifat praktis, tidak seperti pesta
adat aslinya. hal ini sebetulnya tidak dikehendaki masyarakat tetapi karena
alasan-alasan tertentu, seperti biaya yang mahal dan waktu yang cukup lama,
akhirnya masyarakat banyak mengikutinya.
Dalam kenyataannya, perubahan yang dikehendaki dengan yang tidak
dikehendaki mempunyai kaitan yang erat. Contohnya, kemajuan teknologi pertanian
seperti penggunaan traktor. Perubahan ini merupakan perubahan yang direncanakan
atau dikehendaki. bagi para petani, kemajuan atau perubahan tersebut sangat
menguntungkan karena menghemat tenaga, waktu dan biaya. Namun, timbul akibat
sampingan yang memang tidak dikehendaki masyarakat, seperti tidak terlihatnya
lagi nilai kebersamaan atau kegotongroyongan warga untuk mengerjakan lahan
pertaniannya. Semakin banyak buruh tani yang kehilangan pekerjaannya karena
tenaganya telah digantikan oleh mesin.
4.
Perubahan Struktural dan perubahan proses
Perubahan struktural adalah perubahan yang sangat mendasar yang menyebabkan
timbulnya reorganisasi dalam masyarakat. Contohnya penggunaan alat-alat
pertanian yang serba canggih. Perubahan proses adalah perubahan yang sifatnya
tidak mendasar. Perubahan tersebut hanya merupakan penyempurnaan dari perubahan
sebelumnya. Contohnya, perubahan kurikulum dalam bidang pendidikan yang
sifatnya menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam perangkat
atau dalam pelaksanaan kurikulum sebelumnya.
B. PROSES
PERUBAHAN SOSIAL
Pada dasarnya proses
perubahan sosial dapat terbentuk melalui difusi, akulturasi, asimilasi, dan
akomodasi.
1. Difusi
Difusi merupakan proses penyebaran
berbagai unsur pembentuk kebudayaan,
baik berupa ide, keyakinan, dan lain sebagainya. Hal ini disebarkan dari
individu ke individu yang lain, atau bahkan lebih luas dari pada itu. Difusi dibedakan menjadi dua macam yakni
difusi intramasyarakat dan difusi antarmasyarakat.
Difusi intramasyarakat merupakan difusi
unsur kebudayaan antarindividu
atau golongan dalam masyarakat yang dipengaruhi beberapa faktor seperti adanya
pengakuan bahwa unsur budaya baru tersebut memiliki banyak kegunaan. Kemudian, difusi antarmasyarakat ialah difusi unsur
kebudayaan dari satu masyarakat ke masyarakat yang lain. Difusi
antarmasyarakat terjadi karena adanya kontak sosial antarmasyarakat hingga
timbul pengakuan akan kegunaan unsur kebudayaan baru tersebut.
2. Akulturasi
Akulturasi dapat diartikan sebagai
sebuah proses masuknya suatu kebudayaan asing ke dalam sekelompok masyarakat, hingga unsur kebudayaan asing itu dapat
diterima dan diolah ke dalam kebudayaan masyarakat tersebut. Cepat atau
lambatnya unsur kebudayaan asing dapat diterima kelompok masyarakat bergantung
kepada cara masuk dari budaya tersebut. Jika, unsur kebudayaan tersebut masuk
dengan cara pemaksaan, maka akulturasi akan berjalan cukup lama. Namun, jika
melalui proses yang damai, maka unsur kebudayaan tersebut relatif lebih cepat
diterima.
Salah
satu contoh akulturasi yakni pementasan Barongsai.
3. Asimilasi
Asimilasi timbul jika ada dua individu
atau kelompok masyarakat dengan latar budaya berbeda berinteraksi dengan
intensif dalam jangka waktu lama. Dengan
begitu lama-kelamaan, salah satu budaya individu atau kelompok masyarakat
tersebut akan hilang. Proses perubahan sosial dengan bentuk asimilasi ini
merupakan usaha untuk mengurangi perbedaan antargolongan masyarakat guna
mencapai suatu tujuan demi kepentingan bersama.
4. Akomodasi
Akomodasi
dapat dipahami sebagai keadaan yang menunjukkan keseimbangan dalam hubungan
sosial antara individu dengan kelompok-kelompok yang berkaitan dengan norma
atau nilai yang berlaku di masyarakat.
Selasa, 21 Juli 2020
BAB I PERUBAHAN SOSIAL (pertemuan 3)
Faktor Pendorong dan Penghambat Perubahan Sosial
1. Faktor
Pendorong Perubahan Sosial
a) Adanya
kontak dengan kebudayaan masyarakat lain
Salah satu
proses yang menyangkut hal ini adalah misalnya diffusion. Difusi adalah suatu
proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari seseorang kepada orang lain, dan
dari satu masyarakat ke masyarakat lain. Dengan terjadinya difusi, suatu
penemuan baru yang telah diterima oleh masyarakat misalnya, dapat diteruskan
dan disebarluaskan pada masyarakat lain, sampai masyarakat tersebut dapat
menikmati kegunaan dari hasil-hasil peradaban bagi kemajuan manusia. Maka
proses semacam itu merupakan pendorong bagi pertumbuhan suatu kebudayaan dan
memperkaya kebudayaan-kebudayaan umat manusia.
b)
Adanya sikap terbuka terhadap karya
serta keinginan orang lain untuk maju
Sikap menghargai
karya orang lain dan keinginan-keinginan untuk maju merupakan salah satu
pendorong bagi jalannya perubahan-perubahan. Apabila sikap tersebut telah
melembaga, maka masyarakat akan memberikan pendorong bagi usaha-usaha untuk
mengadakan penemuan-penemuan baru. Pemberian hadiah nobel dan yang sejenisnya
misalnya, merupakan pendorong bagi individu-individu maupun kelompok-kelompok
lainnya untuk menciptakan karya-karya yang baru lagi.
c)
Adanya Sistem pendidikan formal yang
maju
Sistem
pendidikan yang baik yang didukung oleh kurikulum adaptif maupun fleksibel
misalnya, akan mampu mendorong terjadinya perubahan-perubahan sosial budaya.
Pendidikan formal, misalnya di sekolah, mengajarkan kepada anak didik berbagai
macam pengetahuan dan kemampuan yang dibutuhkan oleh para siswa. Di samping
itu, pendidikan juga memberikan suatu nilai-nilai tertentu bagi manusia,
terutama dalam membuka pikirannya serta menerima hal-hal baru dan juga
bagaimana cara berpikir secara ilmiah. Namun jika dikelola secara baik dan
maju, pendidikan bukan hanya sekedar dapat mengajarkan pengetahuan, kemampuan
ilmiah, skill, serta nilai-nilai tertentu yang dibutuhkan siswa, namun lebih
dari itu juga mendidik anak agar dapat berpikir secara obyektif. Dengan
kemampuan penalaran seperti itu, pendidikan formal akan dapat membekali siswa
kemampuan menilai apakah kebudayaan masyarakatnya akan dapat memenuhi
kebutuhan-kebutuhan jamannya atau tidak. Nah, di sinilah kira-kira peranan atau
faktor pendorong bagi pendidikan formal yang maju untuk berlangsungnya
perubahan-perubahan dalam masyarakat.
d)
Sikap berorientasi ke masa depan
Adanya prinsip
bahwa setiap manusia harus berorientasi ke masa depan, menjadikan manusia
tersebut selalu berjiwa (bersikap) optimistis. Perasaan dan sikap optimistis,
adalah sikap dan perasaan yang selalu percaya akan diperolehnya hasil yang
lebih baik, atau mengharapkan adanya hari esok yang lebih baik dari hari
sekarang. Sementara jika di kalangan masyarakat telah tertanam jiwa dan sikap
optimistis semacam itu maka akan menjadikan masyarakat tersebut selalu bersikap
ingin maju, berhasil, lebih baik, dan lain-lain. Adanya jiwa dan sikap
optimistik, serta keinginan yang kuat untuk maju itupula sehingga proses-proses
perubahan yang sedang terjadi dalam masyarakat itu dapat tetap berlangsung.
e)
Sistem lapisan masyarakat yang bersifat
terbuka (open stratification)
Sistem
stratifikasi sosial yang terbuka memungkinkan adanya gerak vertikal yang luas
yang berarti memberi kesempatan bagi individu-individu untuk maju berdasar
kemampuannya. Dalam keadaan demikian, seseorang mungkin akan mengadakan
identifikasi dengan warga-warga yang mempunyai status yang lebih tinggi. Dengan
demikian, seseorang merasa dirinya berkedudukan sama dengan orang atau golongan
lain yang dianggapnya lebih tinggi dengan harapan agar mereka diperlakukan sama
dengan golongan tersebut. Identifikasi terjadi di dalam hubungan
superordinat-subordinat. Pada golongan yang lebih rendah kedudukannya, sering
terdapat perasaan tidak puas terhadap kedudukan sosial yang dimilikinya.
Keadaan tersebut dalam sosiologi dinamakan “status-anxiety”. “Status-anxiety”
tersebut menyebabkan seseorang berusaha untuk menaikkan kedudukan sosialnya.
f)
Adanya komposisi penduduk yang heterogen
Pada
kelompok-kelompok masyarakat yang terdiri dari berbagai latar belakang seperti
kebudayaan, ras (etnik), bahasa, ideologi, status sosial, dan lain-lain, atau
yang lebih populer dinamakan “masyarakat heterogen”, lebih mempermudah bagi
terjadinya pertentangan-pertentangan ataupun kegoncangan-kegoncangan. Hal
semacam ini juga merupakan salah satu pendorong bagi terjadinya
perubahan-perubahan sosial dalam masyarakat.
g)
Nilai bahwa manusia harus senantiasa
berikhtiar untuk memperbaiki hidupnya
Nasib manusia
memang sudah ditentukan oleh Tuhan, namun adalah menjadi tugas dan kewajiban
manusia untuk senantiasa berikhtiar dan berusaha guna memperbaiki taraf
kehidupannya. Lagipula, menurut ajaran agama juga ditekankan bahwa Tuhan tidak
akan mengubah nasib sesuatu umat (termasuk individu) selama umat (individu)
tersebut tidak berusaha untuk mengubahnya. Dengan demikian tugas manusia adalah
berusaha, lalu berdoa, sedangkan hasil akhir adalah Tuhan yang menentukannya.
Adanya nilai-nilai hidup serta keyakinan yang semacam itu menyebabkan kehidupan
manusia menjadi dinamik, dan adanya dinamisasi kehidupan inilah sehingga perubahan-perubahan
sosial budaya dapat berlangsung.
h) Ketidakpuasan
masyarakat terhadap bidang kehidupan tertentu
Munculnya
ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu, misalnya
adanya pelaksanaan pembangunan yang hanya menguntungkan golongan tertentu,
pembagian hasil pembangunan yang tidak merata, semakin melebarnya jurang
pemisah antara si kaya dan si miskin, dan lain-lain, dapat menyebabkan
terjadinya kekecewaan dalam masyarakat. Bahkan jika dibiarkan sampai
berlarut-larut, hal semacam itu dapat mengakibatkan terjadinya demo ataupun
protes-protes yang semakin meluas, atau bahkan kerusuhan-kerusuhan, dan
revolusi. Dengan demikian adanya ketidakpuasan masyarakat terhadap
bidang-bidang kehidupan tertentu dapat mendorong bagi bergulirnya perubahan-perubahan
sosial budaya.
1. Faktor Penghambat Perubahan Sosial
a) Kurangnya
Hubungan dengan Masyarakat Lain
Manusia
tidak pernah lepas dari hubungan dengan manusia atau masyarakat lain dalam
suatu pergaulan. Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain mengakibatkan suatu
masyarakat menjadi terasing dari pergaulan hidup dengan masyarakat lainnya.
Akibatnya mereka tidak mengetahui kemajuan atau perkembangan yang terjadi pada
masyarakat lain. Apabila pergaulan saja sangat terbatas, maka yang terjadi
adalah keterbatasan pemikiran sehingga keinginan untuk berubahpun juga sangat
minim.
b) Perkembangan
Ilmu Pengetahuan yang Terlambat
Dengan
adanya keterbatasan dalam pergaulan, dapat dipastikan perkembangan ilmu
pengetahuan juga akan terlambat. Sebab dalam kemajuan ilmu pengetahuan dapat
ditempuh di antaranya dengan metode learning by doing. Tidak adanya keinginan
untuk menambah wawasan di bidang ilmu pengetahuan akan mengakibatkan pola pikir
yang terbelakang dan ketinggalan zaman, sehingga muncul sebuah pandangan miring
(stigma) adanya kelompok masyarakat yang enggan berubah.
c) Sikap
Masyarakat Tradisional yang Konservatif
Sikap
konservatif atau enggan melakukan perubahan akan membawa mentalitas yang buruk
dalam sebuah kemajuan. Karena itu sikap tersebut harus dihindari apabila
seseorang hendak melakukan suatu perubahan.
d)
Vested Interest (Kepentingan-Kepentingan yang
Tertanam Kuat)
Nilai-nilai
tradisional akan memunculkan sebuah kepentingankepentingan kolektif yang
tertanam kuat dalam diri masyarakat. Hal ini juga akan menghambat sebuah
perubahan sosial karena pada dasarnya suatu perubahan itu berusaha untuk
meninggalkan nilai-nilai lama guna menuju pada nilai-nilai yang baru yang lebih
bermanfaat dan sesuai dengan keadaan masyarakat saat sekarang. Oleh karena itu,
seseorang yang menginginkan sebuah perubahan harus berani membuang jauh
nilai-nilai kepentingan semacam ini.
e)
Prasangka (Prejudice) terhadap Hal-Hal Baru
Selain
nilai-nilai kepentingan, prasangka buruk terhadap hal yang baru akan mengganggu
proses perubahan sosial. Setiap ada hal yang baru datang, sepertinya ada
semacam ketakutan dari sekelompok masyarakat yang tidak menghendaki perubahan,
kemudian sekelompok orang tadi berusaha memengaruhi kelompok yang lain. Hal ini
harus disingkirkan apabila seseorang akan melakukan perubahan sosial.
f)
Rasa Takut Terjadinya Kegoyahan terhadap Integrasi
Masyarakat
Ada
sebagian anggota masyarakat yang takut atau khawatir terhadap perubahan yang
terjadi di masyarakat, karena menurut mereka perubahan itu akan menggoyahkan
integrasi dalam masyarakat. Misalnya penggunaan traktor dalam pengolahan lahan
pertanian. Awalnya hal itu ditolak karena dapat memudarkan gotong royong di
antara petani, namun lambat laun hal itu dapat diterima.
g)
Hambatan Ideologis
Suatu perubahan dalam masyarakat
akan sulit terjadi apabila berbenturan dengan ideologi atau paham yang dianut
oleh masyarakat tersebut. Misalnya kebiasaan-kebiasaan yang ada di masyarakat.
BAB I PERUBAHAN SOSIAL (pertemuan 2)
Faktor-faktor Penyebab Perubahan Sosial
1.
Faktor
Internal
a.
Bertambah
atau berkurangnya penduduk
b.
Penemuan-penemuan
baru
Penemuan baru
dibedakan dalam pengertian invention dan discovery. Invention adalah proses
menghasilkan suatu unsur kebudayaan baru dengan mengobinasi atau menyusun
kembali unsur- unsur kebudayaan lama dalam masyarakat. Discovery adalah
penemuan unsur kebudayaan baru, baik berupa alat ataupun gagasan. Discovery
dapat menjadi invention jika masyarakat sudah mengakui, menerima, bahkan
menerapkan penemuan tersebut.
Penemuan baru
pada umumnya mengakibatkan bermacam-macam pengaruh pada masyarakat, antara
lain:
1)
Penemuan
baru akan menimbulkan pengaruh pada bidang-bidang lain. Penemuan baru seperti
radio, handphone dll akan memancarkan pengaruhnya ke berbagai arah.
2)
Penemuan
baru mengakibatkan perubahan-perubahan yang menjalar dari satu lembaga kemasyarakatan ke lembaga
kemasyarakatan lainnya. Misalnya penemuan baru kapal terbang telah membawa
pengaruh besar terhadap metode berperang.
3)
Beberapa
penemuan baru dapat mengakibatkan satu jenis perubahan. Misalnya, penemuan
mobil, kereta api, dan telephon menyebabkan tumbuhnya lebih banyak pusat-pusat
kehidupan di daerah pinggiran kota yang dinamakan suburban.
c.
Pertentangan
masyarakat
d.
Terjadinya
pemberontakan atau revolusi
2.
Faktor
Eksternal
a.
Lingkungan
fisik yang ada disekitar manusia
b.
Peperangan
c.
Pengaruh
kebudayaan masyarakat lain
